Minal Aidin Wal Faidzin

29 October 20052:08 am
Kategori: Life

ketupat lebaran
Lebaran emang masih lama sich, tapi gak ada salahnya kan ngucapin ‘met lebaran sekarang? Soalnya ini hari terakhir gw kuliah dan ini postingan terakhir gw sampai nanti gw masuk kuliah lagi tanggal 11 November.

Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Dan Batin

sebelum matahari terbenam, sebelum bumi berhenti berputar,sebelum hari berganti, away mengucapkan minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin

Pokoknya ucapan ini away tujukan untuk :

  • Keluarga di rumah
  • Yayang dan keluarga di rumah (Hadiwijoyo)
  • Semua temen-temen gw di LABKOM UBL
  • Semua orang yang kenal sama gw

Jangan Lupa bagi-bagi kue lebarannya ya, ketupat dan opor =)

Selamat Lebaran Anshori!

1:56 am
Kategori: motivasi

Selamat Lebaran Anshori!
Sebadung-badungnya anak, itulah Anshori! Tapi
malangnya bocah, itulah juga Anshori. Mungkin kita tak
pernah memahami takdir atau sekedar kekejaman dunia.
Atau mungkin lebih baik kita biarkan saja bumi
menggelinding seperti hari-hari biasanya.

***

Kami masih ingat kedatangannya dari Batam. Anak ini
memang lain dari yang lain. Ia tak mudah didekati,
meskipun keluguannya tak menghalanginya untuk
berbicara kepada orang yang ia inginkan. Kami hanya
tertarik mendengar cerita tentang bocah malang itu,
Anshori. Dalam usia yang masih sangat kecil ia menjadi
yatim piatu. Ayahnya seorang buruh lepas di perantauan
Batam, meninggal dunia di usia muda. Entah apa
sebabnya, barangkali kecelakaan kerja. Apa pula yang
bisa dilakukan perempuan miskin berpendidikan rendah
di bedeng reot ini? Membanting tulang tanpa henti
hingga tubuh merapuh, sakit. Tak lama berselang
ibundanya menyusul mati merana sementara mengurus
putranya yang masih balita.

Si kecil Anshori, mungkin tak paham apa-apa tentang
dunia. Namun darahnya telah cukup lama menyatu dengan
induknya. Mulutnya yang mungil telah merasai kasih
dari kedua puting ibu. Ketika kedua orang tercintanya
pergi, batinnya seakan terkoyak. Bocah itu berkelana
mencari makan tanpa arah. Mengais2 kasihan dari rasa
iba manusia. Kami tak tau kepahitan apa yang
dialaminya dalam usia sekecil itu. Yang kami dengar,
Anshori menyimpan kemarahan yang begitu besar dalam
dadanya. Tubuh kecil itu seakan bola energi yang tak
terduga. Satu saat ia begitu lugu sperti anak-anak
yang lain, di saat lain ia sukar dikendalikan.

Kedatangannya disini sebenarnya juga bukan tempat yang
tepat. Disini kami merawat anak-anak down syndrome,
bukan seperti dia. Sayang Anshori tak punya pilihan
lain. Keluarga tetangga yang baik hati merasa tak
mampu lagi merawatnya. Segala cara sudah digunakan
namun tak mampu menyelami pikiran bocah itu. Dengan
sedih, mereka menitipkannya di panti sosial di Batam.
Kali ini, panti sosial di batam juga angkat tangan.
Karena keterbatasan sumberdaya dan fasilitas terpaksa
si kecil harus berangkat ke Bogor.

***

Anshori, seperti anak-anak lain seusianya, sedang
senang-senangnya bermain dan mencoba banyak hal. Ia
menikmati kesehariannya dengan teman-teman barunya di
panti. Suasana ramai anak-anak cukup menghiburnya.

Di hari-hari tertentu kami petugas panti membagikan
sedikit uang jajan untuk anak-anak. Tak banyak, cuma
seribu dua ribu rupiah, cukup untuk semangkuk bakso
atau siomay yang lewat hari itu di depan panti. Kami
ingin mereka merasa bahagia, bisa membeli sendiri
jajanan yang mereka inginkan. Cara ini terbukti
menyenangkan, bila kamu ada disini kamu bisa melihat
wajah-wajah mereka yang ceria. Sambil makan, mereka
akan berceloteh dan tertawa dengan lugunya. Begitu
pula Anshori kita.

Di saat lain, Anshori bermain dengan anak-anak petugas
panti. Anak-anak memang hidup menyatu, tak terpisah
antara anak asuh panti dengan anak-anak petugas. Tapi
ada saat2 dimana anak2 harus mengerjakan tugas
sementara anak2 petugas bebas bermain di luar. Saat
itu Anshori senang bisa bermain dengan mainan yang
mungkin tak dimilikinya. Anak-anak biasanya tak
keberatan berbagi. Namun Anshori kadang begitu berat
mengembalikan mainan itu. Tak seperti anak lainnya, ia
akan mengamuk bila mainan itu direbut.

Hari berganti dan pengurus panti harus berotasi. Kini
uang jajan tak lagi diberikan. Di hari-hari khusus
itu, petugas memasak bubur kacang hijau atau makanan
lain yang lezat untuk anak-anak. Anak-anak ada yang
kecewa, tapi tetap senang dengan kelezatan makanan
yang disajikan. Anshori juga makan dengan lahap, tapi
setelah kenyang ia tetap meminta jatah jajannya. Kami
selalu iba melihat wajah mungilnya, secara bergantian
kami memberikan jajan dari kantong kami sendiri.

Namun kantong PNS kecilan seperti kami tak selalu
berisi. Gaji yang tak seberapa itu tak mampu mengejar
kebutuhan hidup yang makin hari makin melesat jauh.
Waktu kami tersita untuk mengurus anak-anak. Hampir
tak mungkin mencuri-curi kesempatan mencari sampingan
di luar. Di saat seperti itu Anshori kehilangan uang
jajannya. Dan entah pa yang pernah terjadi di
kehidupan sebelumnya, bocah kecil itu mengamuk,
memecahkan kaca2 panti. Merusak sepeda motor atau
perlengkapan lainnya. Seakan ia tak rela ada yang
merenggut secuil remah kebahagiaan yang ia punya.

Bocah itu benar-benar mengombang-ambingkan perasaan
kami. Antara iba dan kasih dengan kekesalan menghadapi
kenakalan Anshori. Bagaimanapun tak mudah merawat
begitu banyak anak-anak down syndrome dengan sifatnya
masing-masing. Tapi kami sudah terbiasa dan punya
bekal yang cukup untuk merawat mereka. Tidak dengan
Anshori, ia berbeda. Manusiawi kalau kami kesal, tapi
kami juga ibu dan ayah. Sambil mengelus dada kami
hanya berdoa agar luka hatinya akan sembuh bersama
waktu.

Pernah suatu hari ibu Tuti lepas kesabarannya, ia
harus memukul Anshori untuk menenangkannya. Setelah
rekan-rekan yang lain membawa anak itu ke kamar, air
mata meleleh di kedua belah pipinya. Perasaannya yang
halus sebagai seorang ibu seakan terkoyak. Anak itu
hanyalah bcah kecil yang tak mengenal bebar salah,
baik buruk. Entah pula apa ia telah mengenal hitam
putihnya dunia. Ia cuma anak yatim piatu, yang bahkan
tak mengenal wajah orang tuanya. Persis ketika ia
kecil dulu. Seminggu ia tak dapat tidur dengan
nyenyak.

***

Hari ini, hari kerja terakhir sebelum Hari Raya Idul
Fitri. Para petugas satu persatu mudik. Anak-anak asuh
panti satu-satu dijemput keluarganya pulang ke rumah
untuk berlebaran. Tawa-tawa lebar menghiasi wajah
mereka. Dengan baju baru yang rapi bersih, mereka
menyambut papa mamanya yang datang dengan penuh haru.
Ruang-ruang panti yang ramai, kini semakin sepi.

Hanya tertinggal sedikit suara kecil di satu sudut
panti. Ada empat orang anak yang tinggal, 1 perempuan
dan 4 anak lelaki. Mereka tak dijemput karena tak
diketahui asal keluarganya. Ada yang karena terlantar
di jalan, dibuang oleh orang tuanya, atau sengaja
dititipkan selamanya di panti ini. Termasuk Anshori
yang malang. Di saat seperti ini para petugas selalu
berusaha membahagiakan mereka dengan berpatungan
membelikan pakaian atau makanan yang enak. Bukankah
kami satu-satunya keluarga yang mereka miliki?

Hari ini kami juga berangkat pulang ke Jakarta. Fahmi,
putra kami yang semata wayang, mengucapkan selamat
tinggal pada sobat-sobatnya yang tertinggal. Sementara
suamiku mengangkat travel bag ke taksi, kudengar suara
Anshori berceloteh pada Fahmi…

“nanti siang dong, Anshori mau dijemput ibu
Anshori…” katanya. Jari-jari mungilnya menunjuk foto
di potongan majalah bekas yang sudah lusuh.

Sumber : Motivasi_Net@yahoogroups.com

Pernahkah?

27 October 20056:51 am
Kategori: Life

Pernahkah kita mencoba menjadi orang lain…?
Pernahkah kita mencoba berfikir seperti orang lain…?
Pernahkah kita mencoba mengerti orang lain…?
Pernahkah kita mencoba merasakan kepedihan orang lain?
Pernahkah kita mencoba mengalah untuk orang lain…?
dan
Pernahkah kita mencoba mendengarkan orang lain…?

Pernahkah….?

Ada Apa Denganku?

4:06 am
Kategori: Life

Akhir-akhir ini banyak keanehan yang terjadi sama orang-orang di sekitar gw. Yang pengen gw cari tau adalah kenapa sikap mereka berubah? Atau itu cuma perasaan gw aja? Atau sebenarnya yang berubah bukan mereka, melainkan gw yang berubah. Gak tau dech………………………………………
Ah sudahlah……….
gw males ceritanya….
Ada Apa Denganku?

Maaf

26 October 20059:35 am
Kategori: lirik lagu

Kau, menyisakan tangis
Pertengkaran semalam, Diantara kita
Kini, ku harus berdiri
Ditepian hati, Bimbang ‘tuk memilih

Kau harus tahu, Dalam hatiku bergetar
Waktu ku tahu, Kau terluka saat aku…

Buatmu menangis, Buatmu bersedih
Inginku memelukmu, dan ucapkan maaf
Maafkan aku, Maafkan aku, Maafkan aku…

Aku, aku pun mencoba
Tuk beri yang terbaik, Untuk kau miliki
Kini, Ku harus berdiri
Ditepian hati, Bimbang ‘tuk memilih

Kubuat kau menangis, Buatmu bersedih
Ingin ku memelukmu, Dan ucapkan maaf
Maafkan aku…Buatmu menangis, Buatmu bersedih

CINTA LAKI-LAKI BIASA

24 October 200512:16 pm
Kategori: Life

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia
mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi
bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan
Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama
herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan
lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua
menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik
nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil
dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian
di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.
Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan
Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat
karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab
kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa
dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang
balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira
Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda
baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat
biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak
‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah
menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya
menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik
di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar
tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau
cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu
sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!
Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!
Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan
tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan
satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah
mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih
dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania
memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud
Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya
maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus
pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti
kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika
bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar
dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu
berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan
kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu
dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal,
hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan.
Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang
tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di
rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.
Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania
dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,
dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,
mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan
membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu.
Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang
jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.
Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu
tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan
paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di
luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu
begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah
direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Tiga Kunci Hidup yang Bahagia

12:15 pm
Kategori: motivasi

Apakah rahasia hidup yang bahagia itu? Banyak
orang yang
mengidentikkan kebahagiaan dengan segala
sesuatu yang berada di luar
kita, seperti harta benda yang kita miliki. Apakah
Anda akan
berbahagia jika mempunyai rumah yang indah,
mobil mewah, penghasilan
yang berlimpah, dan pasangan hidup dan anak-
anak yang tampan dan
cantik? Mungkin Anda akan mengatakan ‘’ya.'’
Tapi, percayalah itu
tidak akan berlangsung lama.

Kebahagiaan yang disebabkan hal-hal di luar kita
adalah kebahagiaan
semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang begitu
Anda berhasil
memiliki barang tersebut. Anda melihat kawan
Anda membeli mobil
mewah, handphone yang canggih, atau sekadar
baju baru. Anda begitu
ingin memilikinya.

Anehnya, begitu Anda berhasil memilikinya, rasa
bahagia itu segera
hilang. Anda merasa biasa-biasa saja. Bahkan,
Anda mulai melirik
orang lain yang memiliki barang yang lebih bagus
lagi daripada yang
Anda miliki. Anda kembali berangan-angan untuk
memilikinya.
Demikianlah seterusnya. Dan Anda tidak akan
pernah bahagia.

Budha Gautama pernah mengatakan, ‘’Keinginan-
keinginan yang ada pada
manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia
dari kebahagiaan.'’ Ia
benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa
syarat. Anda tidak
perlu memiliki apapun untuk berbahagia. Ini adalah
sesuatu yang sudah
Anda putuskan dari awal.

Coba katakan pada diri Anda sendiri, ‘’Saya sudah
memilih untuk
bahagia apapun yang akan terjadi.'’ Anda akan
merasa bahagia walaupun
tidak memiliki harta yang banyak, walaupun
kondisi di luar tidak
sesuai dengan keinginan Anda. Semua itu tidak
akan mengganggu karena
Anda tidak menempatkan kebahagiaan Anda
disana.

Kebahagiaan yang hakiki terletak di dalam diri
Anda sendiri. Inti
kebahagiaan ada pada pikiran Anda. Ubahlah cara
Anda berpikir dan
Anda akan segera mendapatkan kebahagiaan dan
ketentraman batin.
Ada tiga pikiran yang perlu senantiasa Anda
tumbuhkan. Saya
mendapatkan gagasan mengenai tiga kunci
kebahagiaan ini setelah
merenungkan arti tasbih, tahmid dan takbir yang
kita ucapkan tiap
hari tapi sering tanpa makna yang mendalam.
Saya kira ajaran seperti
ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja,
tetapi juga dalam
ajaran agama yang lain.

Kunci pertama kebahagiaan adalah rela
memaafkan. Coba renungkan kata
subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci,
sementara manusia adalah tempat
kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia
justru terletak pada
ketidaksempurnaannya. Dengan memahami
konsep ini, hati Anda akan
selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.

Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky
menemukan bahwa sebagian
besar masalah yang kita hadapi dalam hidup
bersumber dari
ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang
lain. Ia bahkan mendirikan
sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika
yang hanya menggunakan
satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

Kunci kedua adalah bersyukur. Coba renungkan
kata alhamdulillah.
Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa
mengucapkan
alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti
cerita seorang petani
miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-
orang di desanya amat
prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya
mengatakan,
alhamdulillah.

Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke
rumahnya sambil membawa
serombongan kuda liar. Petani itu mendadak
menjadi orang kaya. Orang-
orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan
selamat kepadanya, namun
ia hanya berkata, alhamdulillah.

Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat
musibah. Anaknya yang
berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh
sehingga patah
kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin,
tapi sang petani
hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata
seminggu kemudian tentara
masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda
untuk wajib militer.
Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali
anak sang petani karena
kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya
berkata singkat,
alhamdulillah.
Cerita itu sangat inspiratif karena dapat
menunjukkan kepada kita
bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu
baik. Sebaliknya, apa
yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang
yang bersyukur tidak
terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia
selalu menerima apa
saja yang ia hadapi.

Kunci ketiga kebahagiaan adalah tidak membesar-
besarkan hal-hal
kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda
akan merasa bahwa
hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-
hal yang kita pusingkan
setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah
kecil. Masalah-masalah
ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu
tahun dari
sekarang.

Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya
beberapa hal yang
merupakan penyebab terbesar stres, seperti
kematian orang yang kita
cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-
hal seperti ini
bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ‘’agak
besar.'’ Tapi, bukankah
hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada
waktu-waktu
tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang
kita pusingkan dalam
hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah
kecil.

Cermin Seekor Burung

12:14 pm
Kategori: motivasi

KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai
merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara,
mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara
makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara
lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel
salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena
tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah
tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa
riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor
kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau
agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin
mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing
tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan
memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju
satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.
Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran
kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku
pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia
dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung
pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri
sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan
kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-
sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya
bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah
mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap
gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan
oleh si kucing.

Hmm… tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu
yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak
selalu lebih hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap
dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya;
dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah
cermin yang memantulkan wajah kita…

Kuliah Gak Ya?

22 October 20052:30 am
Kategori: Life

Hari ini gw dateng jam 07.50 dan seperti biasa lab masih kosong.
Yang ada cuma anak-anak yang semalem nginep aja.
Pada males dateng kali. Gak tau juga dech
Ya udah langsung aja, lanjutin kerjaan semalem.
Otak-atik Blogsome lagi.
Kali ini gw nambahin Belum ada komentar

My Counter

21 October 20052:59 pm
Kategori: Life

Akhirnya berhasil juga nambahin counter.
Makasih ya bang w-beez
Udah ah pulang dulu, mumpung ujannya udah mulai reda

Otak-Atik Blogsome

2:09 pm
Kategori: Life

Gw lagi otak-atik blogsome nich
Kirain templatenya gak bisa diubah-ubah
ternyata menurut Webeez, templatenya bisa diubah.
Coba dulu ya