Beberapa hari yang lalu aku mengikuti UTS Etika Profesi dan Budi Pekerti. Salah satu pertanyaan yang diajukan Pak Arief Wibowo adalah :
Apakah yang dimaksud dengan psikopat?
Mungkin beberapa orang sudah tahu apa arti dari psikopat.
Sebelumnya saya juga kurang tahu apa arti kata tersebut. Yang ada di pikiran saya, psikopat adalah seorang pembunuh yang melakukan pembunuhan demi kesenangan.
Ternyata setelah googling dapet juga.
Saya mendapatkan ini dari Kompas Cyber Media.
Awas! Psikopat Di Sekitar Kita …
Bila kata psikopat disebut, pikiran mungkin langsung melayang pada Hannibal Lector, pembunuh berantai dalam film Silence of the Lamb, sosok “sempurna” dan ‘normal” yang jauh lebih jahat dari penampilannya. Seperti Hannibal, seorang psikopat memang kerap menipu lewat penampilan.
Untunglah, manusia seperti Hannibal - yang sangat menyukai upacara penyiksaan - tergolong spesies langka di muka Bumi. Kau ada sejuta orang seperti Hannibal, mungkin akan banyak manusia pindah ke Bulan, karena Bumi tak lagi aman. Meski bisa jadi, tanpa disadari, sebenarnya banyak psikopat lain yang berpenampilan sama sempurna dan sama normalnya dengan Hannibal, berkeliaran bebas di sekitar kita!
Maaf, bukan menakut-nakuti. Peringatan di atas sekadar mengutip iklan “Seminar Akbar Nasional Psikopat” yang digelar 21 - 22 Januari 2006 di Jakarta. Bukan menakut-nakuti juga, kalau ternyata tiga dari 10 pria Amerika Serikat, dan satu dari 30 orang Inggris adalah psikopat. Penampilan mereka tak jarang seperti idaman banyak orang: berbudi luhur, mulia, atau berkedok agama sesuai keyakinannya.
Mereka pun profesional di bidangnya. Ada yang dokter, psikiater, psikolog, penegak hukum, wartawan, pemuka agama, politikus, penggiat LSM, pendidik, ibu rumah tangga. Tak ketinggalan, mereka juga punya banyak julukan. Mulai dari yang keren sampai menyeramkan, seperti a white collar crime, the best actor, atau “serigala berbulu domba”.
Diagnosis Panjang
* Adakah cara mengenali para psikopat yang berkeliaran itu? Secara klinis, jelas tak mudah, karena untuk sampai pada kesimpulan seseorang tergolong psikopat atau bukan.
“Harus melalui proses panjang dan sulit. Diagnostik sahih mesti disimpulkan setelah usia orang yang dicurigai lebih dari 18 tahun,” papar dr. Suryantha Chandra, Sp.KJ, kepala Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta.
Sampai saat ini, pasien yang ditangani Sanatorium Dharmawangsa, yang akhirnya disimpulkan sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 - 35 tahun. Sebuah rentang usia produktif. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh pasien yang datang.
Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab, berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal).
Penderitanya dianggap terlalu cuek, bipolar, keadaan pada bidang perasaan yang sangat ekstrem, seperti senang terus, terlalu banyak gagasan, berwawasan luas, selalu ingin mendapatkan semua, maniakal, bersifat manis yang memaksa serta suka mengambil jalan pintas untuk meraih keinginannya, megalomania.
Terapi seumur-umur
* Untuk “menangkap’ psikopat diperlukan kerja tim ahli, mulai dari dokter, psikiater, psikolog, pekerja sosial, sampai occupational therapist (instruktur untuk memberi tugas atau pekerjaan tertentu).
Mereka bekerja berdasarkan holistic-eclectic approach, pendekatan bio-psiko-sosial yang akan memeriksa dan menilai faktor organ biologis, psiko-pendidikan, sosial budaya, dan religius-spiritualitas pasiennya.
Pemeriksaan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, khusus kesehatan otak dan tubuh, lewat brain scanning, EEG, MRI, rontgen dan general check up. Pada tahap ini, tahun 1995, sebuah tim peneliti pimpinan Dominique LaPierre (Kanada) memaparkan hasil penelitian terhadap otak 30 pelaku kriminal. Ternyata ditemukan kelainan pada bagian prefrontal cortex (orbitofrontal - ventromedial), lobus temperalis, lapisan otak di arah pelipis kiri dan kanan, yang mempengaruhi kemampuan mengikuti aturan sosial dan etika.
Pemeriksaan tahap kedua, wawancara dengan psikiater yang menggunakan DSM-IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV). Di Inggris penggunaan patokan ini berhasil menemukan 3% pria dan 1% wanita, yang “tertangkap” mengalami gangguan kepribadian antisosial.
Untuk menyimpulkan hasil wawancara, apalagi memberikan “gelar” psikopat, psikiater harus memperhatikan gejala kepribadian pasien, terutama sejak pasien berusia 15 tahun. Apakah ia sedikitnya kerap melakukan tiga dari tujuh ciri khas berikut ini:
(1) gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan pihak berwajib, (2) berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara, menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang.
Atau (3) meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat itu juga dilakukan, (4) mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering terlibat penyerangan atau adu jotos, (5) tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain, (6) tak bertanggungjawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang utang, (7) nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya bahkan mencuri.
Karena segenap perbuatan di atas merupakan masalah perilaku, orangtua dan orang-orang terdekat sebaiknya mulai memberi perhatian lebih, bila anak atau orang yang dikenalnya melakukan hal-hal di atas berulang-ulang sebelum usianya menginjak 15 tahun.
“Mereka mesti hati-hati, banyak baca rujukan tentang gangguan kepribadian, konsultasi dengan psikolog dan psikiater. Bila usia pasien belum 15 tahun, para ahli paling-paling hanya akan memberi nasihat untuk mengamati dan jaga-jaga. Misalnya, simpan baik-baik barang berharga dan uang, agar pasien tak terpancing mencuri, termasuk mencuri milik keluarga sendiri,” saran dr. Suryantha.
Dicarikan pekerjaan
* Tahap ketiga, keberadaan psikopat bisa dipertegas lewat psikotes. Psikopat umumnya ber IQ tinggi. Tes dilakukan dengan MMPI (Minnesota Multi Phasic Personality Inventory), pengukur psikotes yang versi Indonesianya disebut MIMPI.
Perangkat berskala 1 - 10 ini mengukur psychopathic deviate (Pd) alias kecenderungan psikopat. Ada skala dua untuk depresi, empat untuk psikopat, dan enam untuk paranoid.
Tahap keempat, dengan allo-anamnesa, pekerja sosial mengumpulkan info dari orang-orang terdekat pasien, semisal orangtua, guru, teman, rekan kerja, atasan, tentang keadaan dan perilaku orang yang dicurigai dari waktu ke waktu. Berpatokan pada lima tingkat multiaxial system akan diketahui apakah pasien mengalami gangguan klinis (axis I), gangguan kepribadian dan keterbelakangan mental (II), keadaan medis secara umum (III), masalah lingkungan dan psiko-sosial (IV), dan penilaian fungsi secara umum (V).
Semua pemeriksaan harus dilakukan dengan teliti. Kalau pasien ditengarai psikopat, penanganan dan pengobatannya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan. Secara organ biologis, ia seumur hidup perlu mengonsumsi obat untuk menjaga kestabilan sumber “listrik” dasar di otaknya yang mengatur emosi. Pusat letupan dijaga agar relatif tenang, karena pada keadaan inilah diharapkan ia bisa lebih menyadari apa yang dikatakan dan dilakukan secara lebih bertanggungjawab.
Selanjutnya, dilakukan penanganan medis per kasus. Misalnya, penyandang cacat tubuh yang biasa memanfaatkan cacatnya secara berlebihan untuk dikasihani dan menggantungkan diri sehingga membebani orang lain, diberi latihan fisik agar bisa lebih bersaing dengan keterbatasan fisiknya.
Sementara tujuan bimbingan psiko-pendidikan secara psikologis untuk menyadarkan seorang psikopat, agar lebih mengendalikan perilaku dan memahami, bahwa sejumlah tindakannya melanggar norma hukum dan sosial.
Secara sosial budaya dan agama juga dilakukan bimbingan per kasus. Kalau problemnya karena menganggur, occupational therapist akan mengusahakan mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan pasien, bergaul dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semuanya mengacu ke prinsip eclectic, mengutamakan atau memilih yang harus didahulukan.
Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga tahun. Sanatorium Dharmawangsa menegaskan, pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus dilakukan terus-menerus, dengan kerja sama banyak pihak, karena masalahnya tak selalu mudah. Bagaimana kalau si penderita ternyata pejabat, pengusaha atau orang penting?
Dipicu budaya sakit,
* Memang, gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum, justru menjadi aktivitas “sehari-hari”.
Praktik-praktik proyek fiktif, penggelapan pajak, atau aji mumpung-nya para pejabat dan pengusaha contohnya, dianggap sebagai hal biasa. Sistem pendidikan yang hanya mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia sadar kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas.
Dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Inggris, kita memang miskin data. Wajar bila tak bisa diketahui populasi psikopat yang ada di tengah masyarakat. Namun, sepanjang “budaya sakit” seperti di atas masih kuat berakar di masyarakat, rasanya tidak berlebihan bila dikatakan, sebenarnya banyak orang bergejala psikopat mondar-mandir di sekitar kita.*