Buku adalah gerbang ilmu, demikian banyak orang menyebutnya. Sayangnya tidak semua orang dapat menikmatinya dengan bebas khususnya para tuna netra. Keterbatasan inilah yang mendorong dikembangkannya huruf timbul (Braille).
Tapi berapa banyak sih buku yang sudah disediakan dalam format Braille. Cobalah susuri toko-toko buku, berapa banyak buku dalam format Braille? Apakah buku-buku best seller atau terbaru semacam Harry Potter sudah tersedia dalam bentuk Braile? Sangat sedikit kalau tidak boleh dikatakan nyaris tidak ada.
Kalaupun ada, harganya lebih mahal dari buku dalam format biasa. Jadi, bagaimana para tuna netra dapat berkembang jika akses pengetahuan masih tertutup untuk mereka?
Sumber informasi masa kini tak hanya terbatas pada buku tapi juga internet. Ribuan bahkan jutaan sumber dan informasi tersebar di internet untuk siapa saja. Tuna netra? Untunglah sudah ada yang mengembangkan software pembaca teks sehingga tuna netra dapat membaca halaman-halaman website dengan mendengarkan rangkaian kata yang diucapkan mesin.
Untuk sementara, para tuna netra dapat leluasa menikmati sumber pengetahuan yang tak terbatas. Tapi lagi-lagi mereka harus terbentur masalah biaya. “Satu lisensi untuk 5 pengguna harganya sekitar 10 ribu dollar (AS), Mas,” kata Aria Indrawati, S.H., public relation Yayasan Mitra Netra.
Beberapa tahun yang lalu, dosen Institut Teknologi Bandung, Dr. Ari Akhmad Arman juga mengembangkan software penerjemah teks ke ucapan yang didistribusikan secara bebas. Jika software semacam ini digunakan mungkin akan semakin banyak tuna netra yang menikmati akses informasi.
Akses internet
Bantuan yang diterima lembaga tersebut selama dua tahun berturut-turut dari program Samsung Digitall Hope tentu saja sangat membantu. Setahun yang lalu, Mitra Netra telah mengembangkan pusat komputer untuk para tuna netra di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Mulai sekarang, para tuna netra di ketiga kota dapat menjelajahi internet tanpa batas meskipun jumlah dan fasilitasnya sendiri masih terbatas. Selain itu, para tuna netra di Mitra Netra telah bahu-membahu mengembangkan media online (www.mitranetra.or.id) yang mudah diakses para tuna netra di daerah lain melalui internet. Perlu diketahui bahwa sampai sekarang hanya teks yang dapat dibaca oleh para tuna netra, sehingga web yang penuh dengan animasi maupun gambar justru menyulitkan mereka memperoleh informasi.
Uniknya, para programmer, pengisi konten, dan jurnalis media tersebut semuanya adalah tuna netra. Hal tersebut membuktikan bahwa tuna netra juga dapat bersaing. Teknologi telah terbukti menjembatani para tuna netra dengan sumber informasi.
Dengan bantuan dari Samsung senilai 41.138 dollar AS yang diterima tahun ini, Mitra Netra berencana memperluas layanannya ke Makassar dan mengembangkan varasi bahan bacaan melalui program Diversifikasi Bahan Bacaan. Program yang akan dimulai Januari 2006 berencana menerjemahkan 1.000 buku ke dalam format digital agar dapat dibaca oleh para tuna netra. Program ini akan melibatkan sekitar 300 sukarelawan dan ditargetkan selesai dalam 10 bulan.
“Melalui program ini diharapkan para tuna netra dapat menikmati bahan bacaan yang terbaru,” kata Ari. Konsep program semacam ini, kata Ari, sebenarnya telah dicoba dijajaki dengan para penerbit namun terhambat masalah ijin dari pengarang dan kemungkinan penyebarluasan secara ilegal.
Jika penerjemahan buku ke dalam bentuk Braille terbentur masalah biaya, maka pembuatan buku dalam bentuk ebook yang dapat dibaca di layar komputer mungkin menjadi alternatif yang murah dan mudah. Apalagi software pembaca teks sudah digunakan dan tersebar baik yang berlisensi maupun tidak.
ada yang tau gak ya software pembaca teks apa yang gratis?
sumber : http://www.kompas.com