Minyak Tanah dan Kompor Gas
Sebelumnya aku minta maaf kalau postingan ini basbang alias basi banget. hehehe. Belakangan
ini, di dekat tempat tinggalku, aku selalu melihat antrian jerigen di salah satu agen minyak
tanah. Yup, jerigen itu adalah milik warga yang sedang antre minyak tanah. Tapi, pagi tadi,
hanya jerigen saja yang berjejer rapi dan diikat dengan tali. Mulai dari jerigen kecil,
jerigen besar dan juga gerobak milik tukang minyak tanah keliling. Pemiliknya mungkin sedang
beristirahat atau mereka tahu bahwa mobil tangki yang biasa mengangkut minyak tanah ke agen itu belum datang. Memang, minyak tanah sudah lama menjadi barang langka dan walaupun ada susah dicari dan harganya pun selangit. Hiperbola banget ya… Tapi, belakangan ini barang itu menjadi semakin langka. Ini memang menjadi salah satu program pemerintah, yaitu “Program konversi minyak tanah ke gas LPG”. Bener gak seh, itu nama programnya?
Sebagai konsekuensi dari program itu, pemerintah membatasi persediaan minyak tanah.
Pemerintah juga membagikan kompor gas dan tabung gas LPG 3 kg untuk masyarakat. Seharusnya pembagian kompor gas itu merata. Tapi, di daerahku, sama sekali belum dapat jatah. Makanya masyarakat masih tergantung kepada minyak tanah.
Oh iya, konon di daerahku semua warganya sudah didata siapa saja yang akan mendapatkan
kompor gas itu. Setiap 1 kepala keluarga (KK) dimintai uang sebesar Rp 10.000 oleh ketua RT
setempat. Tapi itu kejadiannya sudah sekitar dua bulan yang lalu. Dan kenyataannya kompor
gas itu belum ada juga. Malahan sekarang ketua RT setempat sudah diganti. Mana
pertanggungjawaban dia? Kemana uang yang dibayarkan oleh sekitar 100 KK
itu? di korupsikah?
Itu tadi adalah sebuah kejadian nyata yang terjadi di Ciledug - Tangerang.










Ayo demo!!
Comment by Praditya — 7 January 2008 @ 10:32 pm
Dimakan sendiri tuh uangnya oleh ketua RT nya…
Comment by anna — 8 January 2008 @ 9:40 am
Ya kita doain aja yang makan uang rakyat hidupnya bahagia, selamat sentosa. Biar yang maha Adil dan Bijaksana yang menghakimi..Setuju?
Comment by Setiawan — 8 January 2008 @ 1:36 pm
Alhamdulillah di daerah Ridu sudah dapet,, emang rata2 dimintain Rp 10 ribu gitu,, tapi ada juga yg cuma dimintain 5 Ribu aja.. kayaknya tergantung RT-nya deh…
Iya sangat prihatin deh dengan kondisi ini…
kasihan kan ibu2…
Comment by ridu — 8 January 2008 @ 1:42 pm
udah demo aja
*mode kompor on*
Comment by ordinary — 8 January 2008 @ 2:38 pm
@praditya : demo apa neh? demo masak?
@anna : iya tuh, ntar tambah gendut deh perutnya
@setiawan : setuju!!!
@ridu : kalo dipikir-pikir seh uang 10rb itu gak seberapa, tapi kalo 1 RT ada 100 kepala keluarga?
@ordinary : wah, ini udah mirip kompor gas
Comment by away — 8 January 2008 @ 2:50 pm
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk Wordpress dengan installasi mudah. Salam!
http://www.lintasberita.com/Lokal/Minyak_Tanah_dan_Kompor_Gas/
Comment by Lintasberita — 11 January 2008 @ 6:24 pm
Yang Sab4r aj4. makanya laen kali jangan cepet percaya. Kalo ada money baru tuh ada barang. Ditempat-ku bayar 5rb,wkt brg ada. Yang ada malah di daerah terpencil belum terjangkau tuch, ma pak pres. Biasa lagi sibuk piknik ma urusin Mr.Soeharto.
Comment by Ai'-fifi — 12 January 2008 @ 8:41 pm